Thursday, September 18, 2008

umat buddha menatap masa depan

Umat Buddha Menatap Masa Depan
Agustus 26, 2008 · Tidak ada Komentar


Erham Budi Wiranto

Rabu, 06 Agustus 2008 (catatan diskusi)

 

Diskusi yang diawali dengan menu vegetarian gado-gado ini memperbincangkan tema The Broken Buddha. Satu hal yang membuat istimewa dari ngobrol-ngobrol ini tentu saja adalah kehadiran Bante Shravasthi Dhamika sebagai penyaji utama.

Buddhist dari Australia yang berusia 50an ini mengaku mulai memeluk Agama Buddha sejak usia 19 tahun. Cukup belia untuk seorang yang melakukan konversi dari membaca buku. Pencariannya tidak berhenti di lembaran kertas, dia hijrah ke Cambodia dan beberapa tempat lain di sekitarnya untuk mendalami Buddha. Merasa kurang puas, dia langsung ke pusatnya, India. Setelah pencarian yang panjang, kini dia tinggal di Singapura dan aktif memberikan ceramah serta menulis buku. Setidaknya sudah 25 judul buku karangannya tersebar hingga ke bumi belahan barat.

Sebelum berpanjang lebar tentang upaya umat Buddha menghadapi dunia terkini, sang Bante terlebih dahulu menggambarkan perkembangan umat Buddha di beberapa negara terutama di Asia seperti Cambodia, Tibet, Singapore, China, Malaysia, Thailand dan (mungkin dia tidak enak hati jika tidak menyebutkan) Indonesia. Meskipun memiliki ekspresi yang bervariasi, namun basis-basis Buddha tersebut dianggap sebagai potensi untuk menghadapi dunia yang terus berubah.

Strategi yang digunakan umat Buddha saat ini adalah berupaya untuk mempergiat kepedulian sosial, dalam arti bahwa umat Buddha harus semakin banyak melibatkan diri dalam berbagai aktifitas yang membawa kedamaian dan kesejahteraan di bumi ini. Kurangnya keterlibatan sosial (the lack of social involvement) diakui oleh sang Bante sebagai salah satu faktor yang bisa melemahkan citra Buddha. Untuk itu beberapa ajaran luhur Buddha harus diaplikasikan terus menerus.

Dari pemaparan dan tanya jawab dalam diskusi tersebut, cukup banyak ajaran Buddha yang diperbincangkan. Saya sangat tertarik ketika sang Bante memaparkan tentang apa yang dia sebut sebagai animal rage. Saya terheran bagaimana Buddha sangat mampu berempati terhadap binatang. Sang bante mengatakan bahwa jika kita tidak mau diperlakukan seperti binatang itu, maka jangan lakukan sesuatu yang buruk pada binatang tersebut. Jangan melukai apalagi membunuh. Tidak hanya itu, sang bante bahkan menekankan etika terhadap tanaman. Umat Buddha diajarkan untuk bersikap santun terhadap tanaman, seperti “jangan usil mematahkan dahan, jangan menginjak tunas tanaman, dan seterusnya.

Menanggapi seorang penanya yang secara filosofis mempertanyakan eskatologi Buddha, bante menegaskan bahwa Buddha lebih sebagai clarification of mind ketimbang concern to God. Selanjutnya Bante juga menjelaskan bahwa salah satu pengaruh buddha yang diakui secara luas adalah dalam tataran filosofi dan psikologi, terutama psikologi. Perkumpulan Yoga merebak di segala penjuru dunia 

Hal itu membuka pintu lebih lebar bagi warga dunia untuk lebih mengenal buddha. Buddha semakin banyak dipelajari dan diminati orang karena konsep ajarannya yang dikenal sangat ramah. Bahkan banyak diantara orang yang memilih memeluk Buddha hanya dari membaca buku. Menurut bante, hal ini sangat berbeda dengan Kristen dan Islam yang dikenal sebagai agama yang giat melakukan misi penyebaran agama. Bahkan konservatisme dan pemaksaan masih kerap dilekatkan pada agama misi tersebut. Lebih jauh lagi, bante sempat menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan Buddha, maka agama lamanya (kristen) adalah agama yang kurang toleran. Bante memberikan definisi toleran sebagai “saya menyadari bahwa anda berbeda, dan saya menghormati anda beserta perbedaan itu”.

Saya sempat menanyakan satu hal yang sepertinya hampir terlewatkan dalam diskusi tersebut, yaitu tentang relasi antara Agama Buddha dan Negara. Salah satu kasus yang saya angkat adalah penerapan Agama Buddha sebagai agama resmi negara pada periode Tokugawa di Jepang, sekitar abad 16 hingga 19. Sang bante memberikan penjelasan yang cukup memuaskan. Bahkan, dia menambahkan beberapa kasus yang lain termasuk kerajaan-kerajaan Buddha di Indonesia. Dia menegaskan bahwa perkawinan agama dan negara memang mungkin terjadi, namun itu tidak akan mungkin berlangsung lama, cepat atau lambat pasti akan mengalami decline. Sang bante juga menambahkan bahwa umat beragama harus belajar dari kegagalan monatisme katolik serta penerapan agama-negara di manapun. Terbukti bahwa semuanya gagal. 

Sebelum diskusi tersebut ditutup, Bante melontarkan kritik pada umat Islam, “Muslim mengeluhkan ketidaktahuan dan kesalahpahaman Barat terhadap Islam, memangnya seberapa jauh muslim bisa memahami agama lain?”

 


Kategori: Tulisan Lepas
source : http://erhambudi.wordpress.com/2008/08/26/umat-buddha-menatap-masa-depan/

Tuesday, June 3, 2008

promo

Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*]

who's Ajahn chah..??

Source : www.Wikipedia.com

Chah Subhatto

From Wikipedia, the free encyclopedia

Learn more about citing Wikipedia

Jump to: navigation, search

Ajahn Chah

Born

17 June 1918(1918-06-17)
Ubon, Thailand

Died

16 January 1992 (aged 73)
Ubon, Thailand

Occupation

Buddhist monk, meditation master

[hide]

Part of a series on
Buddhism

History

Timeline· Buddhist councils

Foundations

Four Noble Truths
Noble Eightfold Path
Buddhist Precepts
Nirvana · Three Jewels

Key Concepts

Three marks of existence
Skandha · Cosmology
Samsara · Rebirth · Dharma
Dependent Origination · Karma

Major Figures

Gautama Buddha
Disciples · Later Buddhists

Practices and Attainment

Buddhahood · Bodhisattva
Four Stages of Enlightenment
Paramitas · Meditation · Laity

Countries/Regions

Bhutan · Cambodia · China
India · Indonesia · Japan
Korea · Laos · Malaysia
Mongolia · Myanmar · Nepal
Singapore · Sri Lanka
Thailand · Tibet · Vietnam
Western countries

Branches

Theravāda · Mahāyāna
Vajrayāna
Early and Pre-sectarian

Texts

Pali Canon · Mahayana Sutras
Tibetan Canon

Comparative Studies
Culture · List of topics
Portal: Buddhism

This box: view talk edit

Ajahn Chah Subhatto (Chao Khun Bodhinyanathera) (Thai:ชา สุภัทโท , alternatively spelled Achaan Chah, occasionally with honorific titles Luang Por and Phra) (17 June 1918, Thailand16 January 1992) was one of the greatest meditation masters of the twentieth century, and was of Lao ethnicity.[1] Known for his informal and direct style, he was a major influence on Theravada Buddhism around the world.

Venerable Ajahn Chah was an influential and perhaps the most famous monk of the Thai Forest tradition of Theravada. The monks of this tradition use various ascetic practices, known as dhutanga, on an occasional or regular basis to deepen their devotional practice. They might, for example, eat only one meal a day, sleep outside under a tree, or visit fearsome forests or graveyards. They also use meditation, for calming (samatha) and for insight (vipassana).

Ajahn Chah established the monasteries of Wat Nong Pah Pong and Wat Pah Nanachat in Northeast Thailand, the grounds of which contain some of the last remaining forest land in Thailand.[citation needed] Wat Pah Pong now includes over 250 branches in Thailand, as well as over 15 associated monasteries and ten lay practice centers around the world.

Ajahn Chah himself did not write much if anything for publication, but his talks were recorded, transcribed, translated and published as books and as free materials available on the Internet.

Over a million people attended Ajahn Chah's funeral in 1992, including the Thai royal family. He left behind a legacy of Dhamma talks, students, and monasteries.

Contents

[hide]

[edit] Quotes

"When one does not understand death, life can be very confusing."

"The Dhamma has to be found by looking into your own heart and seeing that which is true and that which is not, that which is balanced and that which is not balanced."

"Only one book is worth reading: the heart."

"Don’t think that only sitting with the eyes closed is practice. If you do think this way, then quickly change your thinking. Steady practice is keeping mindful in every posture, whether sitting, walking, standing or lying down. When coming out of sitting, don’t think that you’re coming out of meditation, but that you are only changing postures. If you reflect in this way, you will have peace. Wherever you are, you will have this attitude of practice with you constantly. You will have a steady awareness within yourself."

"When sitting in meditation, say, “That’s not my business!” with every thought that comes by."

"The heart of the path is quite easy. There’s no need to explain anything at length. Let go of love and hate and let things be. That’s all that I do in my own practice."

"We practice to learn how to let go, not how to increase our holding on to things. Enlightenment appears when you stop wanting anything."

"If you let go a little, you will have a little peace. If you let go a lot, you will have a lot of peace. If you let go completely, you will have complete peace."

"You are your own teacher. Looking for teachers can’t solve your own doubts. Investigate yourself to find the truth - inside, not outside. Knowing yourself is most important."

"Try to be mindful and let things take their natural course. Then your mind will become still in any surroundings, like a clear forest pool. All kinds of wonderful, rare animals will come to drink at the pool, and you will clearly see the nature of all things. You will see many strange and wonderful things come and go, but you will be still. This is the happiness of the Buddha."

[edit] Famous Western students

[edit] Notes

  1. ^ Ajahn Chah

[edit] References

[edit] External links

[edit] Teachings